KEPULAUAN SULA_IP- Ini bukan semata perkara seorang pekerja yang jatuh sakit lalu meninggal. Di balik kematian Marselus Wajong, muncul pertanyaan yang lebih besar: bagaimana keselamatan pekerja dan warga yang tinggal di sekitar kawasan perusahaan dijamin ketika tiga perusahaan beroperasi di lokasi yang sama?

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Marselus Wajong meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani pengobatan dan disebut sempat mendapat rujukan ke RSUD Sanana. Di tengah kabar duka itu, muncul tudingan dari pihak keluarga yang kemudian dibantah manajemen perusahaan.

Perusahaan menyatakan kematian Marselus bukan disebabkan aktivitas perusahaan. Manajemen menyebut Marselus kerap berobat karena sakit dan diduga mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan tekanan darah.

Namun, persoalan tidak berhenti pada penyebab kematian.

Di kawasan Falabisahaya, Kecamatan Mangoli Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, terdapat tiga perusahaan yang disebut beroperasi dalam satu lokasi, yakni PT SGM, PT Bahana dan PT WBP.

Ketika persoalan polusi udara dipertanyakan, tanggung jawab justru menjadi perkara lain. Ketiga perusahaan tersebut disebut saling melempar tanggung jawab.

Di sinilah pertanyaan publik menjadi penting: jika udara di sekitar kawasan perusahaan tercemar atau menimbulkan gangguan kesehatan, siapa yang bertanggung jawab?

Dan yang lebih mendasar: siapa yang memastikan pekerja dan masyarakat di sekitar kawasan tersebut tidak sedang mempertaruhkan nyawanya demi aktivitas industri?

Perusahaan: Marselus Bukan Karyawan PT SGM

Dalam klarifikasi yang diterima media Infopilar melalui percakapan WhatsApp, pihak manajemen membantah informasi sebelumnya yang menyebut Marselus merupakan karyawan PT SGM.

Fatir Wowor dari manajemen PT Bahana menegaskan bahwa Marselus bukan karyawan PT SGM, melainkan karyawan PT WBP.

Klarifikasi ini menjadi penting karena posisi dan hubungan kerja korban dengan perusahaan dapat menentukan siapa yang bertanggung jawab terhadap aspek keselamatan dan kesehatan kerja korban.

Dengan demikian, informasi mengenai status korban perlu diluruskan agar tidak terjadi kekeliruan dalam menelusuri rantai tanggung jawab perusahaan.

Manajemen PT WBP: Sering Berobat dan Diduga Mengalami Tekanan Darah Tinggi

Yuniharto Moro, dari manajemen PT WBP, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Marselus Wajong. Dalam percakapan dengan media Infopilar, Yuniharto mengatakan dirinya tidak mengetahui secara persis kondisi korban secara langsung. Namun, informasi yang diterimanya menyebut Marselus mengalami sakit dan cukup sering berobat ke puskesmas hingga akhirnya dirujuk ke RSUD Sanana kemudian ke RSUD Chasan Bisoirie Ternate.

Menurut informasi yang diterimanya, Marselus diduga mengalami sakit pada bagian belakang kepala dan terindikasi memiliki tekanan darah tinggi.

Yuniharto juga mengarahkan agar informasi mengenai kondisi medis korban dikonfirmasi kepada Kepala Puskesmas Falabisahaya serta pihak RSUD Ternate.

Pernyataan tersebut merupakan versi manajemen perusahaan.

Karena itu, penyebab medis kematian Marselus tetap membutuhkan penjelasan dari pihak tenaga kesehatan dan dokumen medis yang berwenang. Dugaan kondisi kesehatan yang disampaikan manajemen tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kematian korban tidak berkaitan dengan faktor lingkungan kerja.

Sebaliknya, dugaan adanya paparan lingkungan kerja juga tidak dapat dianggap sebagai penyebab kematian tanpa bukti medis dan pemeriksaan lingkungan yang memadai. Di titik inilah investigasi seharusnya dimulai.

Ketika Tiga Perusahaan Berada di Satu Lokasi

Persoalan menjadi semakin kompleks karena aktivitas tiga perusahaan berlangsung dalam satu kawasan.
PT SGM, PT Bahana dan PT WBP disebut berada dalam satu lokasi operasional di Falabisahaya.

Kondisi tersebut menimbulkan persoalan penting dalam penelusuran sumber polusi. Jika terdapat keluhan mengenai kualitas udara, bagaimana menentukan sumber emisinya? Apakah berasal dari satu perusahaan, aktivitas gabungan, kendaraan operasional, proses produksi, pembakaran, atau sumber lain? Dan yang tidak kalah penting: apakah pernah dilakukan pengukuran kualitas udara secara independen di sekitar kawasan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijawab hanya dengan saling menunjuk antarperusahaan. Sebab ketika tiga perusahaan berada dalam satu kawasan, dampak aktivitas industri juga berpotensi dirasakan oleh pekerja maupun masyarakat yang berada di lingkar kawasan tersebut.

Bukan Sekadar Soal Seorang Pekerja

Kematian Marselus Wajong semestinya tidak berhenti sebagai polemik antara keluarga dan perusahaan. Jika memang kematian tersebut murni akibat penyakit yang telah diderita korban, maka bukti medis dapat menjadi dasar untuk menjelaskan hal tersebut.

Namun jika terdapat dugaan paparan lingkungan kerja atau polusi udara, maka pemeriksaan kualitas lingkungan, catatan kesehatan pekerja, riwayat paparan, hingga standar keselamatan dan kesehatan kerja perlu dibuka dan diperiksa. Sebab taruhannya bukan hanya satu orang.

Ada pekerja lain. Ada warga yang tinggal di sekitar kawasan perusahaan. Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari aktivitas industri.

Di tengah silang pendapat tersebut, pemerintah daerah dan instansi teknis memiliki pekerjaan yang tidak ringan.
Masyarakat membutuhkan jawaban berbasis data, bukan sekadar bantahan.

Kematian Marselus Wajong kini berada di antara dua versi. Di satu sisi, keluarga mempertanyakan kondisi yang dialami korban. Di sisi lain, perusahaan membantah tudingan dan menyebut korban memiliki riwayat sakit serta diduga mengalami tekanan darah tinggi.

Sementara itu, persoalan polusi udara di kawasan tersebut belum menjawab pertanyaan paling mendasar: dari mana sumber polusi, seberapa besar paparannya, dan apakah ada dampaknya terhadap kesehatan pekerja maupun masyarakat?

Selama pertanyaan-pertanyaan itu belum dijawab dengan data medis dan hasil pengujian lingkungan yang dapat dipertanggungjawabkan, publik masih berada dalam ruang dugaan.

Dan dalam perkara yang menyangkut keselamatan manusia, dugaan seharusnya tidak menjadi titik akhir.
Sebab yang dipertaruhkan di Falabisahaya bukan hanya nama baik perusahaan. Yang dipertaruhkan adalah nyawa manusia,”(tim/red).