TERNATE, IP– Kematian Ali Daud (52), warga Desa Banemo, Kecamatan Patani Barat, Halmahera Tengah, menyisakan pertanyaan besar bagi keluarganya.
Hampir enam bulan setelah Ali ditemukan tewas di kebunnya pada 2 April 2026, polisi belum mengungkap siapa pelaku pembunuhan tersebut.
Ali ditemukan dengan sejumlah luka akibat benda tajam. Polda Maluku Utara menyebut penyidik telah melakukan olah tempat kejadian perkara berulang kali, autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, memeriksa 33 saksi, menelusuri citra satelit bersama BRIN hingga melakukan pendalaman dengan metode intelijen antropologis.
Namun konferensi pers Polda Maluku Utara pada 24 September 2026 justru memunculkan pertanyaan baru dari keluarga korban, Sabtu 26/9/2026.
Irham Ali, anak sulung almarhum Ali Daud, mempertanyakan kesimpulan yang disampaikan kepolisian.
Keluarga mengaku tidak menerima begitu saja arah kesimpulan penyidik yang mengarah pada dugaan bahwa pelaku memiliki karakteristik kelompok yang beraktivitas dan bermobilitas secara nomaden di kawasan hutan.
Bagi keluarga Ali Daud, dugaan tersebut masih membutuhkan pembuktian yang jauh lebih terang.
Mereka mempertanyakan dasar polisi menghubungkan temuan di sekitar lokasi termasuk jejak kaki, bivak dari kayu dan dedaunan, serta anak panah tradisional dengan kelompok tertentu dalam hal ini suku Togutil.
Polisi sendiri menyatakan belum menemukan pelaku dan masih menyelidiki perkara tersebut.
Pertanyaan Irhal: Siapa yang Membunuh Ayahnya?
Bagi Irham dan keluarga, persoalannya bukan sekadar siapa yang tidak terbukti sebagai pelaku.
Yang jauh lebih penting adalah siapa sebenarnya yang membunuh Ali Daud.
Keluarga mempertanyakan mengapa kesimpulan mengenai karakteristik pelaku telah disampaikan kepada publik, sementara identitas pelaku, motif pembunuhan dan rangkaian peristiwa di lokasi kejadian belum terungkap.
“Kalau pelakunya belum ditemukan, dasar memastikan karakteristik pelaku itu apa? “tanya Irham”.
Pertanyaan semacam inilah yang kini menjadi kegelisahan keluarga.
Keluarga juga meragukan dugaan keterkaitan dengan kelompok yang disebut-sebut beraktivitas secara nomaden di hutan.
Menurut pengetahuan keluarga dan cerita leluhur yang mereka terima, tidak pernah diketahui adanya kelompok tersebut yang bermukim atau beraktivitas di kawasan hutan maupun kebun di belakang kampung.
Warga yang selama bertahun-tahun berkebun hingga puluhan kilometer dari permukiman, menurut keluarga, juga tidak pernah menjumpai keberadaan kelompok tersebut.
Lokasi Pembunuhan Hanya Sekitar 1,6 Kilometer dari Kampung
Pertanyaan lain berada pada lokasi.
Keluarga menyebut kebun tempat Ali Daud ditemukan tewas hanya berjarak sekitar 1,6 kilometer dari permukiman warga.
Jarak ini menjadi bagian penting yang menurut keluarga harus dijelaskan dalam penyidikan.
Sebab pembunuhan terjadi di kawasan yang tidak sepenuhnya terisolasi dari kehidupan warga.
Ali ditemukan tewas dengan luka akibat benda tajam. Polisi juga menyebut parang milik korban tidak ditemukan, sementara buah pala di sekitar lokasi berserakan. Di radius sekitar dua kilometer, penyidik menemukan jejak kaki yang mengarah ke kawasan hutan serta bivak dan anak panah tradisional.
Temuan-temuan itu tentu penting.
Namun bagi keluarga, temuan tersebut belum otomatis menjawab pertanyaan paling mendasar: siapa pemilik jejak, siapa yang menggunakan anak panah tersebut, siapa yang membuat bivak, dan apakah seluruh temuan itu memiliki hubungan langsung dengan pembunuhan Ali Daud?
Jawaban atas pertanyaan tersebut semestinya dibuktikan melalui penyidikan, bukan berhenti pada dugaan karakteristik pelaku.
Konferensi Pers di Tengah Misteri
Keluarga juga mempertanyakan momentum konferensi pers. Di satu sisi, Polda menyatakan penyidikan telah dilakukan secara komprehensif. Di sisi lain, polisi belum mengungkap identitas pelaku pembunuhan Ali Daud.
Kondisi tersebut membuat keluarga mempertanyakan apa sebenarnya status dan kesimpulan akhir perkara.
Apakah penyidikan telah menemukan arah pelaku, atau baru sebatas menyusun kemungkinan berdasarkan karakteristik dan jejak di lapangan?
Pertanyaan ini menjadi penting karena keluarga tidak ingin kematian Ali Daud berakhir hanya sebagai sebuah kesimpulan mengenai kemungkinan pelaku tanpa tersangka dan tanpa kejelasan siapa yang bertanggung jawab.
Keluarga Minta Kasus Tidak Berhenti pada Narasi
Irham dan keluarga menginginkan penyidikan tetap diarahkan pada pembuktian.
Mereka berharap polisi mengungkap seluruh rantai peristiwa.
Termasuk menguji apakah temuan anak panah, bivak dan jejak kaki benar-benar berkaitan langsung dengan pembunuhan.
Sebab satu hal yang kini belum terjawab tetap sama: Siapa yang membunuh Ali Daud?
Polda Maluku Utara menyatakan penanganan perkara dilakukan berdasarkan fakta, alat bukti dan analisis ilmiah serta menegaskan belum menemukan fakta yang mendukung dugaan bahwa pembunuhan Ali Daud dilakukan masyarakat Desa Sibenpopo.
Namun bagi keluarga, tidak adanya bukti yang mengarah kepada kelompok tertentu belum sama dengan terungkapnya pelaku.
Di mata keluarga Ali Daud, perkara ini baru benar-benar menemukan ujung ketika pembunuh ayah mereka ditemukan, motifnya diketahui, dan seluruh rangkaian pembunuhan dapat dibuktikan di hadapan hukum.
Bagi keluarga, konferensi pers itu justru menyisakan tanda tanya. Setelah acara digelar, mereka mengaku belum menerima hasil ataupun surat resmi dari kepolisian yang menjelaskan dasar dan kesimpulan penyelidikan kasus Ali Daud.
Irham Ali kini tidak hanya menunggu siapa yang disebut polisi sebagai pelaku. Ia menunggu bukti tentang siapa yang mengakhiri nyawa ayahnya (tim/ip).




