TERNATE_IP– Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Kota Ternate, sosok polisi perempuan ini belakangan mencuri perhatian. Bukan karena razia yang membuat pengendara berdebar, melainkan karena cara berbeda yang ia pilih ketika berhadapan dengan warga di jalan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Namanya Iptu Naomi Olinna Harahap, S.Tr.K., M.H. Sejak dipercaya menjabat sebagai Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Ternate pada akhir Juli 2026, Naomi perlahan dikenal publik sebagai polisi yang mengedepankan pendekatan humanis dalam menjalankan tugas.

Di jalan raya, ia tidak hanya hadir untuk menertibkan. Ia menyapa, mengingatkan, menjelaskan, sekaligus mengajak masyarakat memahami bahwa keselamatan berlalu lintas bukan semata-mata urusan polisi, melainkan tanggung jawab setiap pengguna jalan.

Salah satu kebiasaan Naomi yang mendapat perhatian masyarakat adalah ketika menemukan pengendara sepeda motor yang tidak mengenakan helm. Alih-alih berhenti pada penindakan, Naomi kerap memberikan helm secara cuma-cuma, kemudian menyampaikan edukasi mengenai pentingnya perlindungan kepala saat berkendara.

Bagi Naomi, helm bukan sekadar perlengkapan yang harus dikenakan karena takut ditilang. Helm adalah perlindungan paling mendasar ketika risiko kecelakaan datang tanpa pernah memberi tanda.

Pendekatan semacam itu membuat teguran di jalan terasa berbeda. Pesannya tetap tegas, tetapi disampaikan tanpa merendahkan. Ada aturan yang harus dipatuhi, tetapi ada pula ruang untuk mengedukasi.

Di situlah sosok Naomi menjadi menarik. Ketegasan tidak selalu harus hadir melalui suara keras. Disiplin lalu lintas pun dapat dibangun melalui keteladanan, komunikasi dan kepedulian.

Perhatian Naomi terhadap pengguna jalan juga terlihat dari agenda penataan lalu lintas di sejumlah kawasan padat aktivitas. Satlantas Polres Ternate melakukan pemetaan serta penertiban terhadap titik-titik parkir liar dan kendaraan yang menggunakan bahu jalan, antara lain di sekitar Pasar Barito, Pasar Higienis hingga kawasan depan Mal Ternate.

Langkah tersebut bukan sekadar soal kelancaran arus kendaraan. Penataan ruang jalan berkaitan langsung dengan keselamatan pejalan kaki, pengendara, pedagang maupun pengguna transportasi lainnya.

Di luar penertiban, Naomi juga aktif membawa pesan keselamatan ke ruang-ruang pendidikan. Penyuluhan kepada masyarakat dan pelajar menjadi bagian dari upayanya membangun kesadaran berlalu lintas sejak dini.

Pesan yang dibawa tidak hanya berkaitan dengan aturan berkendara, tetapi juga menyentuh persoalan sosial seperti bahaya perundungan siber atau cyberbullying. Bagi kepolisian, membangun keamanan tidak berhenti di jalan raya. Kesadaran untuk saling menghormati juga menjadi bagian dari menciptakan ruang publik yang aman.

Pendekatan humanis itu kembali terlihat dalam kegiatan sosial menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Naomi bersama jajaran Satlantas Polres Ternate membagikan helm dan bendera Merah Putih kepada sejumlah pengendara.

Helm menjadi simbol keselamatan. Bendera menjadi simbol kebangsaan. Keduanya diberikan dalam satu ruang yang sama: jalan raya.

Naomi sendiri bukan sosok baru dalam dunia kepolisian. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2001 dan memiliki latar pendidikan Sarjana Terapan Kepolisian (S.Tr.K.) serta Magister Hukum (M.H.).

Pengalaman panjang di institusi kepolisian kini membawanya mengemban tanggung jawab sebagai Kasat Lantas Polres Ternate, menggantikan AKP Farha.

Namun, yang membuat namanya diperbincangkan masyarakat bukan semata jabatan maupun latar pendidikannya. Justru cara ia hadir di tengah masyarakat yang membuat sosoknya mudah dikenali.

Naomi memperlihatkan bahwa wajah kepolisian di jalan raya tidak harus selalu identik dengan penindakan. Ada sisi lain yang tak kalah penting: mendengar, mengingatkan, memberi contoh dan membantu masyarakat memahami alasan di balik setiap aturan.

Sebab pada akhirnya, keselamatan lalu lintas bukan tentang berapa banyak pelanggar yang berhasil ditindak. Jauh lebih penting adalah berapa banyak pengguna jalan yang akhirnya sadar bahwa satu helm, satu nasihat dan satu tindakan kecil dapat menjadi pembatas antara pulang dengan selamat atau tidak pernah kembali ke rumah.

Di jalan-jalan Kota Ternate, Naomi memilih cara sederhana: menegakkan aturan dengan ketegasan, tetapi tetap menjaga keramahan.

Dan mungkin, dari situlah kepercayaan publik tumbuh bukan karena seorang polisi ditakuti, melainkan karena ia hadir dan dirasakan manfaatnya.

“Kami tidak ingin masyarakat takut kepada polisi. Kami ingin masyarakat sadar bahwa tertib berlalu lintas adalah cara sederhana untuk menjaga diri dan orang-orang yang kita cintai. Mari bersama-sama menciptakan lalu lintas Kota Ternate yang aman, tertib dan berkeselamatan.” Iptu Naomi Olinna Harahap, S.Tr.K., M.H.