JAKARTA, IP- Asap hitam pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Di tengah fenomena El Niño yang memperparah kekeringan, kebakaran meluas di sejumlah wilayah, kualitas udara memburuk, dan kasus gangguan pernapasan meningkat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Situasi ini menempatkan pemerintah di bawah tekanan untuk tidak hanya memadamkan api, tetapi juga melindungi jutaan warga dari paparan polusi udara.

Krisis karhutla tahun ini menjadi peringatan bahwa dampak kebakaran tidak berhenti pada hutan yang hangus atau lahan yang rusak. Partikel halus dari asap dapat masuk ke saluran pernapasan, memperburuk penyakit yang sudah ada, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.

Mengutip laporan Reuters pada 15 Oktober 2026 menyebutkan, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia diperparah oleh kondisi super El Niño yang meningkatkan suhu dan memperpanjang kekeringan. Asap bahkan menyebar ke negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura. Pemerintah Indonesia mengerahkan puluhan ribu personel dan puluhan pesawat untuk menangani kebakaran serta melakukan operasi modifikasi cuaca. Namun, api dan kabut asap masih menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.

El Niño Memperbesar Risiko, Pemerintah Dituntut Bergerak Lebih Cepat

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperingatkan bahwa El Niño pada 2026 berpotensi mencapai intensitas sangat kuat. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya kemarau yang lebih kering dan panjang di sejumlah wilayah Indonesia, sehingga memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan (BMKG).

Dalam situasi tersebut, pemerintah menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Lahan yang mengering lebih mudah terbakar, sementara kebakaran di kawasan gambut dapat berlangsung di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan. Asap yang dihasilkan kemudian terbawa angin menuju permukiman, kawasan perkotaan, sekolah, dan tempat aktivitas masyarakat.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah api membesar. Pengawasan titik panas, pencegahan pembakaran lahan, perlindungan kawasan gambut, serta penyampaian peringatan dini kepada masyarakat harus berjalan bersamaan.

Kementerian Kehutanan pada Agustus 2026 menyatakan memperkuat kesiapsiagaan dan pengendalian karhutla untuk menghadapi ancaman El Niño. Sementara itu, pemerintah pusat juga menghadapi tuntutan agar penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti menyebabkan kebakaran dilakukan secara tegas.

Persoalannya, keberhasilan penanganan tidak semestinya hanya diukur dari jumlah personel yang dikerahkan atau luas lahan yang berhasil dipadamkan. Kondisi udara yang dihirup masyarakat dan kemampuan pemerintah mencegah paparan asap juga menjadi ukuran penting.

Kemenkes Ungkap Risiko Kesehatan, Kasus ISPA Jadi Alarm

Dampak karhutla terhadap kesehatan bukan lagi sekadar ancaman yang diperkirakan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus gangguan pernapasan di sejumlah wilayah terdampak.

Dalam laporan situasi per 27 Agustus 2026, Kemenkes mencatat 13.449 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak. Pada periode yang sama, sekitar 10,67 juta penduduk tercatat berada di wilayah terdampak karhutla. Angka tersebut merupakan data pada tanggal pelaporan itu, bukan total terbaru hingga Oktober.

Perkembangan berikutnya menunjukkan ancaman yang semakin besar. Reuters melaporkan pada 10 September 2026 bahwa jumlah warga yang mengalami gangguan pernapasan terkait kebakaran meningkat menjadi 113.336 orang per 9 September, dari 50.891 orang pada 1 September, berdasarkan data yang disampaikan Kemenkes. Angka ini menunjukkan betapa cepatnya beban kesehatan dapat meningkat ketika kebakaran dan paparan asap terus berlangsung (Reuters).

Paparan asap karhutla dapat memicu batuk, sesak napas, iritasi mata dan tenggorokan, serta memperburuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Partikel halus seperti PM2,5 juga menjadi perhatian karena dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan berkontribusi terhadap risiko gangguan kardiovaskular.

Anak-anak menjadi kelompok yang rentan karena sistem pernapasan mereka masih berkembang. Lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru juga membutuhkan perlindungan lebih besar.

Dengan kondisi tersebut, kabut asap tidak bisa diperlakukan sebagai gangguan lingkungan biasa. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai tingkat bahaya, langkah perlindungan, dan tempat memperoleh pelayanan kesehatan.

Respons Terkini Kemenkes: Fasilitas Kesehatan Disiagakan

Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak untuk memperkuat perlindungan bagi kelompok rentan. Pada Agustus 2026, Kemenkes menyampaikan bahwa tenaga kesehatan dimobilisasi, fasilitas pelayanan disiagakan, dan logistik kesehatan disalurkan untuk mengantisipasi peningkatan gangguan kesehatan akibat asap.

Dalam keterangannya pada 17 Oktober 2026, Kemenkes kembali mengingatkan masyarakat di daerah terdampak agar meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya paparan asap karhutla. Peringatan itu disampaikan ketika gangguan kesehatan akibat kabut asap masih menjadi perhatian di sejumlah daerah.

Kemenkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Warga juga disarankan menggunakan masker respirator yang sesuai, seperti N95, ketika harus berada di lingkungan berasap, menjaga kualitas udara di dalam rumah, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau keluhan yang memburuk.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis perlu mendapat perhatian khusus. Sekolah dan tempat kerja juga perlu mempertimbangkan kondisi kualitas udara sebelum menyelenggarakan kegiatan di luar ruangan.

Namun, perlindungan kesehatan tidak dapat dibebankan kepada masyarakat semata. Pemerintah perlu memastikan informasi kualitas udara mudah diakses, fasilitas kesehatan memiliki obat dan peralatan yang memadai, serta masyarakat di wilayah terdampak memperoleh bantuan secara cepat.

Asap Hitam Menjadi Ujian Penanganan Karhutla

Ancaman karhutla yang diperparah El Niño memperlihatkan hubungan erat antara kerusakan lingkungan, perubahan kondisi iklim, dan kesehatan masyarakat. Ketika kebakaran meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh warga yang tinggal dekat titik api, tetapi juga oleh penduduk di kawasan yang terpapar asap kiriman.

Pemerintah pusat perlu memastikan langkah pencegahan, pemadaman, penegakan hukum, dan perlindungan kesehatan berjalan dalam satu strategi. Pemerintah daerah pun perlu menyiapkan langkah darurat sesuai kondisi kualitas udara dan jumlah warga yang berisiko.

Di sisi lain, penyebab kebakaran harus ditelusuri secara serius. Apabila ditemukan unsur kesengajaan atau pelanggaran hukum, penindakan harus dilakukan berdasarkan bukti dan ketentuan yang berlaku. Pemulihan kawasan terbakar, terutama lahan gambut yang rusak, juga penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.

Asap hitam yang menyelimuti permukiman merupakan peringatan bahwa dampak karhutla telah melampaui persoalan kehutanan. Ketika warga kesulitan menghirup udara bersih dan fasilitas kesehatan menghadapi peningkatan keluhan pernapasan, keberhasilan penanganan harus diukur dari kemampuan negara melindungi masyarakat sekaligus mencegah api kembali meluas.

El Niño memang merupakan fenomena iklim yang tidak dapat dikendalikan pemerintah. Namun, pencegahan kebakaran, pengawasan penggunaan lahan, kesiapan menghadapi bencana, penegakan hukum, dan perlindungan kesehatan merupakan bagian dari upaya yang dapat diperkuat (tim/ip).