TERNATE, IP- Lapangan Ngaralamo tetap menjadi salah satu ruang publik yang hidup di Kota Ternate. Pada suasana malam, warga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memenuhi kawasan itu. Di antara aktivitas warga dan lapak makanan serta minuman, Pemerintah Kota Ternate kembali mengingatkan satu hal: ruang publik harus tetap ramai tanpa berubah menjadi semrawut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, turun langsung memantau aktivitas warga dan pelaku UMKM. Ia didampingi Kepala Bappelitbangda Kota Ternate, Thamrin Marsaoly, serta pengelola Lapangan Ngaralamo.

Pemantauan itu bukan sekadar melihat geliat ekonomi malam hari. Pemerintah juga mencermati sejumlah persoalan yang muncul di sekitar lapangan, terutama parkir dan penggunaan badan jalan.

Rizal mengatakan Pemkot Ternate tidak ingin penataan justru mematikan aktivitas ekonomi warga. Sebaliknya, keberadaan UMKM di Ngaralamo dinilai perlu ditopang dengan fasilitas yang memadai agar kawasan tersebut tetap nyaman sebagai ruang publik.

“Pemkot mendukung penuh aktivitas UMKM maupun masyarakat. Kita juga akan memangkas tangkai pohon di sekitar yang menghambat cahaya listrik ke lapangan. Kemudian memastikan colokan listrik dan kebutuhan lainnya,” kata Rizal.

Namun dukungan terhadap UMKM, menurut dia, tetap memiliki batas yang harus dipatuhi. Aktivitas ekonomi tidak boleh mengambil ruang yang semestinya digunakan untuk lalu lintas maupun kepentingan publik lainnya.

Dari pemantauan malam, masih ditemukan kendaraan yang parkir di sisi timur lapangan. Sejumlah lapak juga menggunakan badan jalan.

“Jadi, saat pantau masih ada parkiran di sisi timur, kemudian ada lapak-lapak yang ada di badan jalan. Itu yang harus ditertibkan, karena itu sesuai dengan hasil rapat sebelumnya,” ujar Rizal.

Persoalan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Pemerintah Kota Ternate telah membahas penataan kawasan Ngaralamo melalui rapat koordinasi pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Rapat itu melibatkan Satlantas Polres Ternate, Dinas Perhubungan, BP2RD, Dinas Lingkungan Hidup, Satpol PP, pengelola Ngaralamo, pemerintah kelurahan, hingga perwakilan pedagang kopi.

Sejumlah skema penataan kemudian disepakati. Sisi barat lapangan diperuntukkan bagi parkir kendaraan dengan pola satu baris. Sementara sisi timur harus steril dari kendaraan.
Adapun sisi selatan, dari Tugu Adipura hingga Arena Zumba, ditutup menggunakan barikade Satlantas dan dialihkan menjadi kantong parkir sepeda motor.

Di sinilah tantangan penataan Ngaralamo sesungguhnya: menjaga keseimbangan antara ruang publik, kepentingan pelaku usaha, dan ketertiban lalu lintas.

Pemerintah tidak sedang berhadapan dengan aktivitas ekonomi yang harus dihentikan. Yang hendak ditata adalah cara aktivitas itu berlangsung agar tidak mengambil hak pengguna ruang publik lainnya.

Rizal menegaskan, penertiban bukan dimaksudkan untuk membatasi UMKM. Pemkot justru ingin aktivitas ekonomi masyarakat terus tumbuh, tetapi berjalan beriringan dengan penyediaan fasilitas dan aturan yang jelas.

Ngaralamo pada akhirnya bukan hanya soal lapangan yang ramai pada malam hari. Ia adalah ruang perjumpaan warga sekaligus salah satu titik tumbuhnya ekonomi informal masyarakat.

Karena itu, tantangannya bukan membuat Ngaralamo sepi demi ketertiban. Tantangannya adalah membuatnya tetap hidup tanpa kehilangan keteraturan.
Penataan yang konsisten akan menentukan apakah Ngaralamo sekadar menjadi tempat berkumpul dan berjualan, atau berkembang sebagai ruang publik kota yang nyaman, tertib, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Pemerintah Kota Ternate kini tinggal memastikan satu hal: kesepakatan di ruang rapat benar-benar hadir di lapangan,”(tim/red).