SOFIFI, IP– Maluku Utara bersiap memasuki babak baru dalam tata kelola pertahanan wilayah. Pada 5 Oktober 2026, Markas Komando Daerah Militer (Kodam) XXVIII/Moloku Kie Raha dijadwalkan diresmikan di Sofifi, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kepastian mengenai jadwal tersebut disampaikan Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto saat konferensi pers di Markas Korem 152/Baabullah, Ternate, Jumat (2/10/2026).

“Insya Allah kantor Kodam baru akan diresmikan pada 5 Oktober,” kata Dody.

Kehadiran Kodam baru ini mengubah peta komando kewilayahan TNI Angkatan Darat di Maluku Utara. Selama ini, pembinaan teritorial wilayah Maluku Utara berada dalam struktur Kodam XV/Pattimura yang bermarkas di Ambon, dengan Korem 152/Baabullah sebagai satuan kewilayahan yang berkedudukan di Ternate.

Dari Ternate ke Sofifi

Pemindahan pusat komando ke Sofifi bukan semata perubahan alamat.

Letaknya yang berdekatan dengan pusat pemerintahan Provinsi Maluku Utara membuat koordinasi antara unsur pertahanan, pemerintah daerah, dan institusi terkait berada dalam ruang yang lebih dekat.

Bagi provinsi kepulauan seperti Maluku Utara, faktor jarak memiliki arti tersendiri. Wilayah yang terbentang dari pulau-pulau kecil hingga kawasan perbatasan membutuhkan sistem koordinasi yang mampu bergerak mengikuti karakter geografis daerah.

Danrem 152/Baabullah Brigjen TNI Enoh Solehudin sebelumnya menyebut keberadaan Kodam baru akan memperkuat pembinaan teritorial sekaligus mempercepat respons terhadap dinamika keamanan dan kebencanaan di Maluku Utara.

Namun, pembangunan markas permanen belum seluruhnya rampung. Selama masa transisi, sejumlah aktivitas komando masih berlangsung di Ternate. Dengan demikian, peresmian pada 5 Oktober menjadi awal dari proses penataan organisasi yang tidak berhenti pada seremoni pembukaan markas.

Moloku Kie Raha dan Identitas Daerah

Nama Moloku Kie Raha membawa dimensi sejarah yang kuat. Istilah tersebut merujuk pada empat kesultanan besar di Maluku Utara Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo.

Pemberian nama itu membuat institusi pertahanan baru tersebut tidak hanya hadir sebagai struktur organisasi militer, tetapi juga berada di tengah ruang sejarah dan identitas masyarakat Maluku Utara.

Hubungan antara TNI dan masyarakat menjadi penting. Pangdam XV/Pattimura mengajak masyarakat dan para pemangku adat bersama-sama menjaga keamanan serta kedamaian Maluku Utara.

Peresmian Kodam XXVIII/Moloku Kie Raha juga berlangsung di tengah momentum penyerahan senjata dari masyarakat kepada aparat. Sebanyak 75 pucuk senjata api, 1.069 butir munisi dan sejumlah bahan peledak diserahkan secara sukarela kepada aparat. Sebagian senjata disebut merupakan peninggalan konflik masa lalu.

Momentum itu memberi pesan bahwa penguatan pertahanan tidak semata-mata berbicara mengenai struktur komando, personel dan markas. Keamanan juga bertumpu pada kesediaan masyarakat menjaga ruang hidupnya dari kekerasan dan konflik.

Menunggu Panglima Pertama
Sejumlah informasi yang beredar menyebut Mayjen TNI Nefra Firdaus sebagai calon atau Pangdam pertama Kodam XXVIII/Moloku Kie Raha. Namun, hingga berita ini disusun, penetapan tersebut belum ditemukan dalam sumber resmi yang dapat diverifikasi.

Nefra Firdaus sendiri sebelumnya menjabat Kasdam XV/Pattimura dan pada Juni 2026 telah digantikan Brigjen TNI Wawan Pujiatmoko dalam jabatan tersebut.

Karena itu, penetapan Pangdam pertama perlu menunggu keputusan atau pengumuman resmi TNI AD agar tidak menempatkan informasi yang masih beredar sebagai fakta final.

Yang kini lebih pasti adalah tanggal peresmian: 5 Oktober 2026 di Sofifi, bertepatan dengan HUT ke-81 TNI.

Bagi Maluku Utara, momentum tersebut menandai lebih dari sekadar lahirnya sebuah markas baru. Ia menjadi penanda perubahan struktur pertahanan di provinsi kepulauan ini dengan Sofifi sebagai titik baru pusat komando kewilayahan TNI Angkatan Darat.

Tantangannya kemudian bukan hanya memastikan organisasi baru itu berdiri, tetapi bagaimana struktur tersebut mampu menjawab kebutuhan keamanan masyarakat di wilayah yang luas, terpisah-pisah oleh laut, sekaligus menjaga hubungan yang konstruktif dengan pemerintah daerah, masyarakat dan pemangku adat.

Peresmian hanyalah awal. Setelah itu, efektivitas Kodam XXVIII/Moloku Kie Raha akan diuji oleh kerja nyata di lapangan. (tim/ip)