TERNATE, IP- Speedboat Bela 72 bukan semata-mata kapal yang kemudian dikenal publik karena tragedi di Pelabuhan Regional Bobong, Kabupaten Pulau Taliabu. Sebelum menjadi pusat perhatian dalam peristiwa yang menewaskan enam orang pada 12 Oktober 2024, kapal itu memiliki cerita personal: Bela 72 diberikan mendiang Benny Laos kepada istrinya, Sherly Tjoanda, sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang ke-19, Senin, (28/9/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Fakta mengenai asal-usul kapal tersebut pernah diberitakan sejumlah media nasional, termasuk Tempo dan jaringan Tribun. Pemberitaan itu mengacu pada video yang diunggah Sherly melalui akun media sosial pribadinya pada 28 Mei 2024, bertepatan dengan hari jadi pernikahan mereka.

Dalam video tersebut, Benny Laos terlihat menyerahkan kapal itu kepada Sherly. Benny menyebut kapal tersebut sebagai hadiah anniversary sekaligus kenangan manis untuk istrinya.

“Kapal ini hadiah anniversary untuk ibu Sherly,” ujar Benny dalam video yang diunggah pada 28 Mei 2024.

Kalimat itu menjadi penting karena menunjukkan bahwa sejak awal Bela 72 bukan sekadar aset transportasi biasa dalam narasi keluarga Benny-Sherly.

Kapal tersebut diperkenalkan sendiri oleh Benny sebagai hadiah pribadi untuk sang istri.

Bahkan, dalam percakapan singkat di video tersebut, ketika Benny menyebut kapal itu sebagai hadiah untuk “ibu Sherly”, Sherly secara spontan bertanya mengenai siapa pemberinya. Benny kemudian menjawab bahwa pemberi hadiah itu adalah suaminya sendiri.
“Suaminya siapa?” tanya Sherly.
“Benny Laos,” jawab Benny.

Momen tersebut direkam sebelum kapal digunakan secara luas untuk aktivitas perjalanan di perairan Maluku Utara.

Hadiah yang Dibangun Menjadi Kenangan

Dalam video yang sama, Sherly memperlihatkan bagian-bagian Bela 72. Kapal itu tidak digambarkan sekadar sebagai perahu cepat untuk berpindah dari satu pulau ke pulau lain.

Bagian dalamnya dilengkapi ruang istirahat, tempat duduk di kedua sisi, kitchen set, kulkas dan freezer. Di bagian bawah terdapat kamar tidur serta kamar mandi.

Sherly bahkan menyebut proses pembangunan dan perubahan desain kapal sebelum akhirnya siap digunakan.

“Setelah kapal jadi, kemudian ganti model, akhirnya siap untuk uji coba,” ujar Sherly dalam video tersebut.

Pada titik itu, Bela 72 adalah simbol perjalanan rumah tangga Benny dan Sherly. Sebuah benda yang sengaja dipersembahkan sebagai “sweet memory” dari seorang suami kepada istrinya.

Namun, perjalanan kapal itu kemudian bergerak jauh melampaui ruang privat keluarga.

Bela 72 mulai digunakan untuk perjalanan antarpulau. Kapal tersebut juga kemudian menjadi sarana mobilitas Benny Laos ketika menjalani aktivitas politik menjelang Pilkada Maluku Utara 2024.

Dengan demikian, terdapat perubahan fungsi yang menarik untuk dicermati: kapal yang semula diperkenalkan sebagai hadiah pribadi kepada Sherly kemudian menjadi kapal yang membawa Benny Laos dan rombongan dalam aktivitas politiknya.

Dari Hadiah Pribadi ke Kapal Kampanye

Pemberitaan sejumlah media setelah tragedi Bobong mengungkap bahwa Bela 72 digunakan Benny Laos untuk mobilitas selama masa kampanye.

Kapal yang pada Mei 2024 diperkenalkan sebagai hadiah anniversary itu akhirnya membawa rombongan Benny ketika mereka melakukan perjalanan di wilayah Maluku Utara.

Di sinilah kisah Bela 72 berubah.

Kapal yang awalnya memiliki makna domestik sebagai hadiah pernikahan ke-19 berubah menjadi bagian dari aktivitas publik. Kapal itu tidak lagi hanya menjadi ruang keluarga, tetapi juga menjadi sarana perjalanan politik.

Pada 12 Oktober 2024, perjalanan tersebut berakhir tragis.

Bela 72 berada di Pelabuhan Regional Bobong ketika terjadi kebakaran dan ledakan. Benny Laos meninggal dunia bersama lima orang lainnya. Sherly Tjoanda yang berada di atas kapal berhasil diselamatkan.

Tragedi tersebut kemudian membuat nama Bela 72 melekat bukan hanya sebagai hadiah pernikahan, tetapi sebagai bagian dari salah satu peristiwa paling tragis dalam kontestasi Pilkada Maluku Utara 2024.

Sebuah Hadiah, Sebuah Kenangan, Sebuah Tragedi

Kontras perjalanan Bela 72 inilah yang membuat kisah kapal tersebut menjadi penting untuk dicatat secara utuh.

Pada 28 Mei 2024, kapal itu diperkenalkan sebagai hadiah anniversary. Kurang dari lima bulan kemudian, kapal yang sama menjadi lokasi tragedi yang merenggut enam nyawa.

Pemberitaan mengenai Bela 72 sebagai hadiah Benny Laos untuk Sherly bukan sekadar kisah romantis keluarga. Fakta tersebut merupakan bagian dari riwayat kapal yang perlu ditempatkan secara jelas dalam kronologi sebelum tragedi Bobong.

Video pemberian kapal itu menjadi salah satu jejak digital yang memperlihatkan bagaimana Bela 72 pertama kali diperkenalkan kepada publik: sebagai hadiah dari Benny Laos kepada Sherly Tjoanda.

Setelah itu, kapal tersebut menjalani fungsi yang lebih luas hingga akhirnya digunakan dalam perjalanan rombongan Benny Laos.

Dan ketika kapal itu terbakar di Bobong, cerita tentang sebuah hadiah anniversary berubah menjadi pertanyaan yang jauh lebih besar mengenai perjalanan, penggunaan, keselamatan, serta rangkaian peristiwa yang berujung pada hilangnya enam nyawa.

Bela 72 bermula sebagai hadiah untuk seorang istri. Tetapi sejarah kapal itu berakhir sebagai salah satu bagian penting dari tragedi Bobong yang hingga kini terus menyisakan pertanyaan.

Redaksi menyajikan fakta mengenai status Bela 72 sebagai hadiah berdasarkan rekaman video yang diunggah melalui akun media sosial Sherly Tjoanda serta pemberitaan sejumlah media. Untuk aspek kepemilikan, dokumen pembelian, registrasi kapal, dan perubahan fungsi penggunaannya, diperlukan verifikasi dokumen resmi dan konfirmasi dari pihak-pihak terkait (tim/ip).