TERNATE_IP– Rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) XII di Kota Ternate resmi berakhir. Namun, bagi Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman, perhelatan tersebut tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial.
Tauhid melihat JKPI sebagai ruang yang lebih luas, mempertemukan kebudayaan, sejarah, dan keberagaman Indonesia dalam satu panggung.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menurut dia, manfaat kegiatan tersebut tidak semata-mata diukur dari perputaran ekonomi yang muncul selama pelaksanaan acara. Ada warisan yang jauh lebih panjang untuk dipikirkan, yakni bagaimana seni, budaya, dan sejarah dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat luas.

“Tidak sekadar berharap pada perputaran ekonomi, tetapi juga pada seni dan budaya. Ini momentum untuk mempromosikan budaya dan sejarah,” ujar Tauhid dalam wawancara seusai penutupan JKPI XII di Ternate, Sabtu malam.

Bagi Ternate, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan wajah kota yang dibentuk oleh sejarah panjang dan perjumpaan berbagai kebudayaan.

Tauhid berharap Ternate tidak hanya dikenal sebagai kota penyelenggara Rakernas JKPI, tetapi juga mampu menunjukkan kepada Indonesia bahwa keberagaman budaya merupakan kekuatan yang perlu dirawat.

“Dari Ternate kita tunjukkan keberagaman budaya,” katanya.

Pesan itu sekaligus menempatkan JKPI bukan hanya sebagai forum antarkota pusaka, melainkan sebagai upaya bersama untuk menjaga ingatan kolektif tentang sejarah dan kebudayaan Indonesia.

Ternate sendiri memiliki jejak sejarah yang panjang sebagai salah satu simpul penting perdagangan dan perjumpaan budaya di kawasan timur Indonesia.

Kekayaan tersebut, menurut Tauhid, perlu terus diperkenalkan melalui berbagai momentum kebudayaan. Karena itu, keberadaan JKPI di Ternate diharapkan meninggalkan sesuatu yang lebih permanen daripada sekadar rangkaian acara.

Ada pekerjaan kebudayaan yang harus diteruskan: membuat sejarah tetap hidup, menjadikan seni tidak sekadar pertunjukan, serta memastikan keberagaman budaya tidak berhenti sebagai slogan.

Tauhid menegaskan, upaya tersebut tidak dapat dibebankan kepada satu daerah saja. Pelestarian kota pusaka dan kebudayaan merupakan kerja bersama seluruh anggota JKPI.

“Ini upaya bersama anggota JKPI,” ujarnya.

Dengan berakhirnya JKPI XII di Ternate, panggung memang ditutup. Namun, bagi Tauhid, pekerjaan sesungguhnya justru berada setelahnya bagaimana semangat yang dibawa dari kota-kota pusaka itu diterjemahkan menjadi gerakan nyata untuk merawat sejarah dan kebudayaan Indonesia,”(tim/red).