“Seorang prajurit sejati akan tetap tegak di tengah badai, bukan bersembunyi di belakang mencari keselamatan”. – Sultan Baabullah
Kata bijak “Seorang prajurit sejati akan tetap tegak di tengah badai, bukan bersembunyi di belakang mencari keselamatan” dapat dimaknai sebagai ajakan untuk berani menghadapi tantangan dan tidak meninggalkan tanggung jawab ketika keadaan sulit.
Makna setiap bagian
- “Prajurit sejati” bukan hanya berarti orang yang menjadi tentara. Secara lebih luas, ini menggambarkan seseorang yang memiliki keberanian, kesetiaan, keteguhan hati, dan rasa tanggung jawab.
- “Tetap tegak di tengah badai” melambangkan keberanian untuk tetap berdiri dan berjuang ketika menghadapi masalah, tekanan, kegagalan, atau bahaya.
- “Bukan bersembunyi di belakang” menggambarkan sikap tidak lari dari persoalan dan tidak membiarkan orang lain menghadapi kesulitan seorang diri.
- “Mencari keselamatan” mengkritik sikap yang hanya mementingkan kepentingan atau keamanan diri sendiri ketika orang lain membutuhkan keberanian dan pengorbanan.
Pesan yang terkandung:
Inti kata bijak tersebut adalah kepemimpinan dan keberanian diuji ketika keadaan sedang sulit. Orang yang benar-benar kuat bukanlah orang yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan orang yang tetap teguh ketika masalah datang.
Dalam konteks perjuangan Sultan Baabullah, pesan ini juga dapat dikaitkan dengan semangat mempertahankan kehormatan dan kedaulatan Ternate. Seorang pemimpin dituntut untuk berada di tengah rakyatnya, menghadapi ancaman, dan tidak mudah menyerah.
Singkatnya: kata bijak ini mengajarkan bahwa ketika badai datang, jangan lari dari tanggung jawab; tetap teguh, berani menghadapi keadaan, dan perjuangkan apa yang benar.
Sultan Baabullah adalah Sultan Ternate ke-24 yang memerintah pada 1570–1583. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Maluku yang dikenal karena perjuangannya melawan Portugis dan mempertahankan kedaulatan Kesultanan Ternate.
Baabullah naik takhta setelah ayahnya, Sultan Khairun, wafat akibat pembunuhan yang dilakukan oleh Portugis pada tahun 1570. Peristiwa tersebut mendorong Baabullah untuk memimpin perlawanan terhadap Portugis. Di bawah kepemimpinannya, Ternate berhasil mengepung dan akhirnya memaksa Portugis meninggalkan Benteng Gamlamo di Ternate pada 1575.
Sultan Baabullah dikenal sebagai pemimpin yang berani, tegas, pantang menyerah, dan memiliki kemampuan membangun persatuan dengan berbagai kerajaan dan wilayah di Maluku. Karena perjuangannya yang besar, ia sering dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan masyarakat Maluku terhadap kolonialisme.




