TERNATE_IP– Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) XII di Kota Ternate resmi berakhir pada Sabtu malam. Namun, bagi Ketua Panitia JKPI XII Rizal Marsaoly, penutupan bukan sekadar tanda berakhirnya sebuah agenda nasional. Ada pesan yang lebih panjang yang hendak dibawa pulang: bahwa warisan sejarah dan kebudayaan Indonesia hanya akan tetap hidup jika dirawat bersama.
Di hadapan para delegasi dari berbagai kota pusaka di Indonesia, Rizal yang juga Sekretaris Daerah Kota Ternate menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaannya atas terselenggaranya seluruh rangkaian JKPI XII di Ternate.
Menurut dia, keberhasilan kegiatan tersebut tidak lahir dari kerja satu institusi atau satu kelompok. Ada kerja kolektif yang melibatkan pemerintah, panitia, delegasi, komunitas budaya, pelaku seni, pelaku UMKM, aparat keamanan, hingga masyarakat Kota Ternate.
“Kami sangat bangga karena hajat nasional sebesar ini bisa terlaksana dengan sukses. Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa doa dan dukungan dari semua pihak, terutama para delegasi dari kota-kota pusaka serta masyarakat Kota Ternate,” ujar Rizal dalam sambutannya pada acara penutupan, Sabtu malam.
Bagi Rizal, kehadiran delegasi dari berbagai daerah bukan semata-mata untuk menghadiri rapat kerja organisasi. Pertemuan itu menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman, sejarah, tradisi, seni, dan identitas yang tumbuh dari kota-kota pusaka di berbagai penjuru Indonesia.
Ternate pun tidak ditempatkan hanya sebagai lokasi penyelenggaraan. Kota ini berusaha tampil sebagai bagian dari cerita besar tentang Nusantara sebuah kota yang menyimpan jejak sejarah panjang, tradisi maritim, kebudayaan, serta kehidupan masyarakat yang terus bergerak di tengah perubahan zaman.
Karena itu, rangkaian JKPI XII dirancang tidak hanya dalam format persidangan dan pertemuan formal. Para delegasi diajak bersentuhan langsung dengan denyut kebudayaan Ternate melalui berbagai agenda seni dan budaya.
Salah satu yang paling menyedot perhatian adalah karnaval budaya.
Di jalan-jalan Kota Ternate, kebudayaan tidak berhenti sebagai benda yang dipajang atau kisah yang diceritakan dari masa lalu. Ia hadir dalam busana, musik, kesenian, gerak, warna, dan ekspresi masyarakat.
Karnaval tersebut memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat ditempatkan dalam satu ruang perayaan.
Berbagai ekspresi budaya berpadu, menciptakan suasana yang sekaligus menjadi hiburan bagi masyarakat dan pengingat bahwa identitas sebuah kota dibangun dari ingatan kolektif yang diwariskan lintas generasi.
Rizal menilai pengalaman tersebut penting karena konsep kota pusaka tidak semestinya dipersempit hanya pada bangunan tua, situs bersejarah, atau peninggalan masa lampau.
“Kota pusaka bukan hanya tentang bangunan atau peninggalan sejarah. Di dalamnya ada masyarakat, tradisi, seni, budaya, dan ingatan kolektif yang harus terus dijaga,” katanya.
Pandangan itu pula yang membuat Rizal berharap keberhasilan JKPI XII tidak berhenti bersamaan dengan ditutupnya rangkaian acara.
Menurut dia, kegiatan tersebut harus meninggalkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar dokumentasi dan kenangan. Kesadaran untuk merawat sejarah dan kebudayaan harus tumbuh setelah para delegasi kembali ke daerah masing-masing.
“Dari seluruh rangkaian kegiatan yang kita laksanakan, mulai dari agenda persidangan, pertemuan, kegiatan budaya, hingga karnaval, semuanya dapat berjalan dengan baik dan sukses. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi kita semua,” ujar Rizal.
Ternate Menjadi Ruang Pertemuan Budaya
Kesan positif terhadap penyelenggaraan JKPI XII tidak hanya datang dari panitia. Masyarakat dan delegasi turut merasakan bagaimana sebuah agenda nasional memberi warna berbeda bagi Kota Ternate.
Rudy, warga Kota Ternate, menilai kehadiran para delegasi dari berbagai daerah menjadi pengalaman tersendiri bagi masyarakat. Menurut dia, JKPI XII membuat Ternate tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah pertemuan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan Indonesia.
“Menurut saya kegiatan ini sangat sukses. Masyarakat Ternate bisa melihat langsung bagaimana kota kita menjadi tuan rumah sebuah kegiatan nasional yang dihadiri banyak daerah. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi kami sebagai warga Ternate,” ujar Rudy.
Ia menilai karnaval budaya menjadi salah satu agenda yang paling terasa di tengah masyarakat. Kegiatan itu, kata dia, berhasil membawa sejarah dan kebudayaan keluar dari ruang-ruang formal sehingga dapat dinikmati secara langsung oleh warga.
Bagi Rudy, pengalaman tersebut penting karena masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Mereka ikut merasakan bagaimana Kota Ternate menjadi bagian dari perhelatan yang mempertemukan banyak daerah dengan latar belakang sejarah dan budaya yang berbeda.
Apresiasi senada disampaikan Muhlas, delegasi dari Yogyakarta.
Menurut Muhlas, JKPI XII meninggalkan kesan positif bagi para peserta. Ternate, kata dia, memiliki kekuatan tersendiri sebagai tuan rumah karena sejarah dan kebudayaannya terasa kuat dalam hampir seluruh rangkaian kegiatan.
“Hajatan nasional ini sangat sukses. Kami dari Yogyakarta merasa senang bisa datang ke Ternate dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Sambutan masyarakat sangat luar biasa dan kegiatan yang disiapkan panitia juga memberikan pengalaman yang berkesan,” kata Muhlas.
Ia melihat pertemuan antarkota pusaka sebagai kesempatan untuk saling belajar. Setiap daerah memiliki cara sendiri dalam menjaga sejarah dan kebudayaannya, tetapi seluruhnya menghadapi tantangan yang relatif sama: bagaimana membuat warisan masa lalu tetap relevan bagi generasi yang hidup hari ini.
“Ternate memberikan kesan yang sangat baik. Kami berharap hubungan dan kerja sama antarkota pusaka ini terus berlanjut, bukan hanya pada saat Rakernas, tetapi juga dalam berbagai program setelah kegiatan ini selesai,” ujar Muhlas.
Dari Ternate, Pesan Itu Diteruskan
Rizal kemudian menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja sejak tahap persiapan hingga penutupan.
Pemerintah Kota Ternate, pemerintah daerah anggota JKPI, panitia, aparat keamanan, komunitas budaya, pelaku seni, pelaku UMKM, dan masyarakat disebut menjadi bagian dari sebuah kerja bersama yang membuat agenda tersebut dapat berjalan hingga akhir.
Secara khusus, masyarakat Kota Ternate mendapat penghargaan karena dinilai telah menjadi bagian penting dari wajah penyelenggaraan JKPI XII.
Sebab, sebuah agenda nasional yang dibawa ke daerah tidak akan memiliki makna yang utuh apabila masyarakat setempat hanya menjadi penonton. Kehadiran mereka, keterlibatan mereka, serta cara mereka menerima para tamu menjadi bagian dari pengalaman yang dibawa pulang oleh para delegasi. Di titik itulah JKPI XII menemukan maknanya.
Ternate bukan sekadar tempat berlangsungnya Rakernas. Ia menjadi panggung tempat sejarah, kebudayaan, masyarakat, dan keberagaman Indonesia bertemu.
Penutupan JKPI XII pun akhirnya bukan sekadar seremoni. Ia menjadi semacam jeda sebelum perjalanan berikutnya ketika para delegasi kembali ke kota masing-masing dan membawa pulang pengalaman dari Ternate.
Bagi Rizal, jaringan kota pusaka harus terus bergerak melampaui agenda pertemuan tahunan. Hubungan antarkota perlu diterjemahkan ke dalam pertukaran pengetahuan, kerja sama kebudayaan, penguatan ekonomi kreatif, pengembangan pariwisata, serta upaya bersama menjaga warisan sejarah.
Sebab kota pusaka tidak hidup hanya dari masa lalu. Ia harus mampu menjadikan masa lalu sebagai sumber pengetahuan untuk membangun masa depan.
Malam itu, JKPI XII memang ditutup. Para delegasi akan meninggalkan Ternate dan kembali ke kota masing-masing. Tetapi pesan yang ditinggalkan jauh lebih panjang dari usia sebuah acara.
Dari Ternate, keberagaman kembali menemukan panggungnya. Sejarah tidak hanya dikenang, tetapi dirayakan. Kebudayaan tidak hanya dipamerkan, tetapi dihidupkan.
Dan warisan Nusantara, pada akhirnya, bukan sesuatu yang cukup diwariskan.
Ia harus terus dirawat,”(tim/red).




