TERNATE_IP– Malam di Kota Ternate, Sabtu (29/8/2026), berubah menjadi panggung budaya. Jalan-jalan utama kota dipenuhi warna, musik, kostum tradisional, tarian, dan ribuan pasang mata yang datang menyaksikan Pawai Budaya dan Karnaval dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).
Mengusung tema “The Light of Heritage”, karnaval tidak sekadar menjadi parade hiburan. Ia menjadi cara Ternate memperkenalkan wajah kotanya melalui sejarah, tradisi, seni, dan keberagaman budaya Nusantara.
Ternate Kota sejak sore, kawasan pusat kota mulai dipadati warga. Di sepanjang ruas jalan yang menjadi lintasan pawai, masyarakat berdiri berjejer. Sebagian membawa telepon genggam untuk mengabadikan setiap rombongan yang melintas. Anak-anak berada di barisan paling depan, sementara orang dewasa memenuhi trotoar dan sisi jalan.
Malam itu, jalan raya kehilangan wajah rutinnya. Kendaraan berganti dengan barisan peserta karnaval. Lampu-lampu kota berpadu dengan gemerlap kostum dan hiasan para peserta.
1.300 Pelajar Membawa Energi Generasi Muda
Salah satu kekuatan utama karnaval adalah keterlibatan sekitar 1.300 pelajar SD dan SMP Kota Ternate.
Mereka dipersiapkan untuk menampilkan tarian Soya-Soya sekaligus menjadi bagian dari Pawai Budaya dan Karnaval JKPI XII. Latihan dilakukan sejak jauh hari agar ribuan pelajar tersebut dapat tampil kompak di hadapan delegasi dari berbagai daerah.
Bagi para pelajar, panggung itu bukan sekadar tempat mempertontonkan gerakan tari. Mereka menjadi generasi yang membawa cerita tentang Ternate.
Soya-Soya hadir bukan hanya sebagai tarian, tetapi sebagai bagian dari ingatan sejarah dan identitas masyarakat Ternate. Ketika ribuan pelajar bergerak dalam satu irama, pesan yang muncul menjadi sederhana: warisan budaya tidak akan hidup jika hanya disimpan dalam buku sejarah. Ia harus dikenalkan, dipelajari, lalu diwariskan.
Warna Nusantara Bertemu di Ternate
Karnaval semakin semarak ketika delegasi berbagai daerah menampilkan identitas budaya masing-masing.
Kostum warna-warni, hiasan kepala, kain tradisional, tarian, musik, hingga berbagai bentuk kreativitas daerah membuat ruas jalan kota berubah menjadi etalase kebudayaan Indonesia.
Kehadiran delegasi dari 20 anggota JKPI dan satu delegasi mancanegara menjadikan pawai ini sebagai ruang perjumpaan lintas daerah dan budaya. Setiap rombongan membawa ciri khasnya sendiri, tetapi semuanya bertemu dalam satu panggung: Ternate.
Di tengah barisan peserta, penampilan dengan kostum yang mencolok menjadi magnet perhatian. Salah satunya tampak melalui karakter berkostum merah-hitam dengan ornamen menyerupai naga dan hiasan bercahaya hijau. Di belakangnya, rombongan peserta lain bergerak dalam balutan pakaian tradisional dengan warna kuning, emas, merah muda, jingga dan berbagai warna cerah lainnya.
Warga tak menyia-nyiakan kesempatan. Kamera telepon genggam terangkat hampir di setiap sudut. Anak-anak mendekat untuk melihat lebih jelas. Para orang tua mengabadikan momen ketika peserta melintas di depan mereka.
Ternate Menjadi Panggung Kota Pusaka
Pawai ini memiliki makna lebih besar daripada sekadar karnaval malam.
Ternate sedang menunjukkan bahwa kota pusaka tidak hanya berbicara tentang benteng, keraton, bangunan tua atau situs sejarah. Kota pusaka juga berbicara tentang manusia yang menjaga tradisi dan menjadikan warisan budaya tetap hidup.
Tema “The Light of Heritage” memang dirancang dengan gagasan tersebut: pusaka bukan sekadar sesuatu yang dikenang, tetapi sesuatu yang dihidupkan melalui seni, kreativitas dan keterlibatan masyarakat.
Ternate Kota
Karena itu, pilihan ruang publik sebagai panggung karnaval memiliki simbol tersendiri.
Jalan yang setiap hari dilalui kendaraan malam itu menjadi ruang budaya. Benteng Oranje menjadi titik awal perjalanan. Arak-arakan kemudian bergerak menuju kawasan Kesultanan Ternate dan berakhir di Lapangan Ngaralamo, tepat di depan Kedaton Kesultanan Ternate.
Sejarah dan kehidupan masyarakat seolah dipertemukan dalam satu garis perjalanan.
Dari benteng kolonial menuju kawasan kesultanan.
Dari masa lalu menuju generasi masa kini.
Dan dari warisan sejarah menuju masa depan.
Ribuan Warga Menjadi Bagian dari Pertunjukan
Menariknya, kemeriahan karnaval bukan hanya lahir dari peserta. Warga yang memenuhi sisi jalan ikut menjadi bagian dari pertunjukan. Ada yang datang bersama keluarga. Ada yang membawa anak-anak. Ada pula yang sengaja menunggu di sepanjang rute demi menyaksikan rombongan dari berbagai daerah.
Interaksi antara peserta dan penonton membuat suasana semakin hidup. Batas antara panggung dan penonton nyaris menghilang.
Karnaval menjadi milik semua orang.
Kota Ternate malam itu seakan tidak sedang menyelenggarakan sebuah acara formal. Ia sedang merayakan dirinya sendiri.
Warisan Yang Tidak Boleh Berhenti Sebagai Seremoni
Rakernas JKPI XII memang merupakan forum kerja antarkota pusaka Indonesia. Namun rangkaiannya dirancang jauh melampaui ruang rapat.
Selain agenda utama Rakernas, kegiatan tersebut diisi dengan Master Class, festival seni dan gastronomi, edukasi budaya, Heritage City Tour, Nusantara Raya Run, hingga Pawai Budaya dan Karnaval. Pemerintah Kota Ternate menyebut rangkaian tersebut sebagai ruang untuk mempertemukan pelestarian sejarah, budaya, ekonomi kreatif, pariwisata dan keterlibatan masyarakat.
Di situlah arti penting karnaval malam itu.
Ternate tidak hanya ingin dikenang karena sejarahnya.
Ternate ingin menunjukkan bahwa sejarah itu masih bernapas.
Benteng-bentengnya masih menjadi penanda perjalanan waktu. Kesultanannya masih menjadi bagian dari identitas masyarakat. Tradisinya masih diwariskan. Dan generasi mudanya masih bersedia berdiri di jalan, mengenakan pakaian tradisional, menari dan membawa nama kotanya ke hadapan Indonesia.
Pada akhirnya, “The Light of Heritage” bukan hanya tentang cahaya lampu yang menghiasi karnaval.
Ia adalah metafora tentang bagaimana warisan masa lalu harus terus diberi cahaya agar tidak padam.
Dan pada malam 29 Agustus 2026, cahaya itu menyala di jantung Kota Ternate di antara benteng, jalan kota, masyarakat, anak-anak, seniman, delegasi Nusantara, dan Kedaton Kesultanan Ternate.
Ternate bukan sekadar menjadi tuan rumah JKPI XII. Malam itu, Ternate menjadikan seluruh kotanya sebagai panggung untuk mengatakan kepada Indonesia: warisan budaya masih hidup,”(tim/red).




