TERNATE_IP– Benteng Oranje kembali menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, kebudayaan, dan denyut kehidupan kota. Di tengah pelaksanaan Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Kota Ternate, situs bersejarah itu tidak sekadar menjadi latar kegiatan, tetapi menjelma menjadi etalase yang mempertemukan beragam warisan budaya dari kota-kota pusaka di Indonesia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Para delegasi, tamu undangan, hingga warga Kota Ternate terlihat mengalir mengunjungi kawasan benteng yang berada di jantung kota tersebut. Di sana, sejumlah stan dari berbagai daerah membuka ruang bagi pengunjung untuk mengenal lebih dekat kerajinan, pakaian adat, serta kekayaan budaya yang dibawa masing-masing kota pusaka.

Antusiasme pengunjung menjadi salah satu pemandangan yang menarik perhatian Infopilar. Sebagian pengunjung memilih membeli berbagai produk kerajinan yang dipamerkan di stan. Sebagian lainnya mengabadikan momen dengan berfoto bersama penjaga stan yang mengenakan pakaian adat dan busana khas daerah masing-masing.

Pertemuan itu membuat Benteng Oranje terasa seperti sebuah panggung kebudayaan. Sejarah Ternate bertemu dengan ragam tradisi dari berbagai penjuru Indonesia, sementara masyarakat menjadi bagian langsung dari perjumpaan tersebut.

Bagi pengunjung, Rakernas JKPI bukan semata agenda pemerintahan atau forum organisasi. Kehadirannya di Ternate membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan sendiri bagaimana kekayaan budaya Indonesia dipertemukan dalam satu ruang.

Yanty, salah seorang pengunjung yang ditemui tim Infopilar, mengaku bangga melihat Kota Ternate dipercaya menjadi tuan rumah agenda berskala nasional tersebut.

“Saya sangat bangga dan berterima kasih karena kegiatan seperti ini bisa terlaksana di Kota Ternate. Ini menjadi kebanggaan bagi kami sebagai warga Ternate yang kedua kalinya, apalagi kota rempah ini bisa menjadi tempat berkumpulnya berbagai kota pusaka dari Indonesia,” ujarnya.

Menurut dia, kehadiran para delegasi dan tamu dari berbagai daerah juga memberikan pengalaman tersendiri bagi masyarakat. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi dapat berinteraksi langsung, mengenal budaya daerah lain, sekaligus memperkenalkan identitas Ternate kepada para tamu.

Ia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman dan Ketua Panitia Rakernas JKPI XII Rizal Marsaoly yang dinilai telah mendorong terselenggaranya agenda tersebut.

“Terkhusus, rasa terima kasih kepada Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman dan Ketua Panitia Rizal Marsaoly. Kami sebagai masyarakat tentu sangat mengapresiasi karena kegiatan sebesar ini bisa hadir di Ternate,” katanya.

Lebih dari sekadar keramaian di kawasan benteng, suasana Rakernas JKPI XII memperlihatkan bahwa pelestarian pusaka dapat menemukan maknanya ketika sejarah tidak berhenti sebagai benda yang disimpan, melainkan dihidupkan melalui interaksi masyarakat.

Benteng Oranje, yang selama ini menjadi salah satu penanda penting perjalanan sejarah Ternate, pada momentum itu seolah mendapatkan peran baru: menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini.

Di antara bangunan bersejarah, pakaian adat, kerajinan tangan, kamera telepon genggam, dan percakapan para pengunjung, warisan budaya tampil bukan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir, disentuh, dikenakan, dibeli, difoto, dan diceritakan kembali.

Rakernas JKPI XII di Ternate pada akhirnya bukan hanya tentang pertemuan antarkota pusaka. Ia juga menjadi pengingat bahwa sebuah kota dapat merawat masa lalunya sekaligus membuka pintu bagi masa depan dengan menjadikan sejarah sebagai sumber kebanggaan, pengetahuan, dan penggerak ekonomi masyarakat,”(tim/red).